Minggu, 11 Juni 2017

PESANTREN KILAT

MENGAPA HARUS IKUT PESANTREN KILAT
Ya, mengapa harus ikut pesantren kilat? Jawabannya, karena wajib hukumnya bagi setiap individu muslim untuk mempelajari dan mengetahui ilmu agama dasar. Wajib artinya berdosa apabila ditinggalkan. Karena tanpa pengetahuan agama dasar yang benar, maka segala ibadah dan perilaku non-ibadah kita rawan kesalahan. Dan apabila kesalahan itu terjadi pada masalah ibadah, maka ibadah kita tidak sah. Apabila tidak sah, maka itu sama artinya dengan tidak melakukan kewajiban. Contohnya, orang awam melaksanakan shalat wajib tapi tidak memenuhi syarat dan rukun shalat seperti suci dari najis, suci dari hadas kecil dan besar, dan lain-lain. Atau, cara wudhunya atau cara shalatnya yang salah sehingga menyebabkan tidak sah.
Ilmu Agama yang Wajib Diketahui setiap Muslim (Fardhu Ain)
Mencari ilmu yang wajib ain (wajib bagi setiap individu muslim) adalah ilmu yang terkait dengan kewajiban agama dan larangan syariah. Setiap muslim harus mempunyai ilmu tentang shalat, puasa, zakat dan haji dan seluruh hal yang terkait dengannya seperti masalah najis, cara menyucikan najis, cara berwudhu, mandi wajib, syarat, rukun, perkara yang membatalkan hadas kecil dan besar, yang membatalkan ibadah shalat, puasa, haji, dll.
Selain itu, setiap invidu muslim juga wajib mengetahui larangan syariah yang utama seperti zina, mencuri, membunuh, menipu, memfitnah, dll.
Dalil-dalil wajibnya Mencari Ilmu
Dalam hadits hasan riwayat Ibnu Majah dari Anas bin Malik, Nabi bersabda
طلب العلم فريضة على كل مسلم
Artinya: Mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim
Al-Sarakhsi dalam kitab Al-Mabsuth menyatakan:
فإن أقوى الفرائض بعد الإيمان بالله تعالى طلب العلم
Artinya: Fardhu yang paling tinggi tingkat wajibnya setelah iman pada Allah adalah mencari ilmu.
Ilmu Agama yang Wajib Diketahui Sebagian Muslim (Fardhu Kifayah)
Fardhu Kifayah adalah kewajiban yang dikenakan pada sebagian muslim saja. Ilmu yang wajib secara kifayah adalah mencari dan menguasai berbagai cabang ilmu agama secara mendalam dan mendetail meliputi Al-Quran dan tafsirnya, hadis dan ilmu cabangnya, fiqih dan ushulnya, dan seterusnya. Berdasarkan firman Allah dalam QS At-Taubah 9:22
فَلَوْلَا نَفَرَ‌ مِن كُلِّ فِرْ‌قَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُ‌وا قَوْمَهُمْ إِذَا رَ‌جَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُ‌ونَ
Artinya: Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.
Abu Bakar Al-Rozi Al-Jashash dalam Ahkamul Qur’an, hlm. 4/374, menyatakan:
وفي هذه الآية دلالة على وجوب طلب العلم وأنه مع ذلك فرض على الكفاية ، لما تضمنت من الأمر بنفر الطائفة من الفرقة للتفقه ، وأمر الباقين بالقعود
Artinya: Ayat ini menunjukkan wajibnya mencari ilmu dan sifatnya fardhu kifayah karena dalam ayat ini terkandung perintah pada sebagian golongan untuk berangkat menuntut ilmu dan memerintahkan yang lain untuk tinggal di rumah.



AKTOR DI UNIT KERJA

Aktor Kantor
Pemain utama atau yang disebut aktor utama / peran utama biasanya ada di film, drama, sinetron atau pun wayang tapi sebenarnya aktor / peran itu tempatnya luas seluas dunia yang disebut pengaruh dunia baik bisnis atau politik.
Aktor kantor yang dimaksud adalah orang yang memengaruhi keadaan kantor tempat dia dan orang bekerja baik sebagai pegawai biasa misalnya sebagai manajer, kepala kantor, ketua kelompok atau bawahan dan sebagainya. Ada yang orang yang bukan apa apa dan kedudukan sejajar sama bawahan yang lain masih dapat memengaruhi teman, atasan dan lainnya untuk mengikuti kehendaknya kalau pengaruhnya baik itu yang dikehendaki bersama dan biasanya tidak jadi masalah, malahan orang itu ditunggu kehadirannya, tapi kalau pengaruhnya tidak baik / jelek, astagfirullah suasana kacau dia nya si aktor jelek yang mengubah / mengolah kekacauan tersebut malah senang bahkan tertawa dengan kejadian dengan bangganya.
Kejadian tersebut mungkin terjadi ditempat anda yang sering anda tidak menyadari dan menerima kejadian itu apa adanya. Kalau kejadian tersebut baik bagi anda alhamdulillah dan tidak merugikan anda itu tidak jadi masalah, tetapi kalau kejadian jelek tersebut merugikan dan menimpa anda apa yang anda lakukan?. Contoh di tempat kerja kejadian yang merugikan misal membuli orang tertentu, mengifomsikan yang salah, meadu domba,  mencuri dan menghilangkan arsip, dsb. Sehingga orang yang bersangkutan menjadi marah walau dalam hati padahal kejadian itu perbuatan sang aktor jelek tersebut, mungkin anda akan menghujat menyumpah dan melaknat aktor jelek itu. Mungkin juga mulai jaga jarak untuk berteman dan kalau perlu putuskan persahabatan karena setelah diteliti tidak ada untungnya berteman sama sang aktor jelek itu, malahan kalau dilanjutkan pertemanan mungkin anda akan merasa berdosa karena selama berteman dengan aktor jelek tersebut dia selalu berbuat dosa melalui anda, membully anda, merendahkan anda , jadi pertimbangkan putusan yang baik dan tepatlah putuskan pertemanan, karena teman mencari pahala dalam kebaikan masih menunggu anda, dunia tidak selebar daun kelor, dunia milik anda dan orang baiklah dan semangat yang akan menang Memang benar orang jahat itu / aktor jelek itu hanya menang sesaat tapi tidak pernah menguasai keadaan. Baik keadaan nyata lingkungannya atau keadaan bersalah dalam hati yang selama hidup tak pernah terhapus untuk menghilangkan kelakuan jeleknya pada dirinya.
Aktor kantor yang merugikan itu akan di kenang oleh teman, bahkan seluruh orang yang kenal si aktor jelek akan terbawa sampai tua bahkan sampai mati dan sepanjang hidupnya si aktor jelek menerima doa jelek dari temannya sendiri. Bahkan dirinya sendiri menghujat perbuatan dirinya yang bertentangan dengan hatinya
Berpisahlah dengan teman kantor tempat kerja bersama dengan damai dan dikenang massa dengan perbuatan baiknya dan bersabarlah serta iklaskanlah semua kejadian yang menimpanya di masa lalu yang sangat menyakitkan, kalau ingat kejadian itu lebih baik kembalilah dan ingat pada Allah SWT, dan insya Allah yang tersakiti olek aktor kantor jelek tersebut akan terus mendapat pahala yang mengalir ke anda yang dibuli,
Contoh yang biasanya tiap pekerja mempunyai kumpulan surat surat di TU ( file nyata)  yang semua hampir sama hanya nama beda, sebagai pengingat dan pembelaan selanjutnya dan untuk dikenang maka ini contoh kehilangan file walau foto copi tapi sangat curiga dan sembrono orang yang mengambilnya


Minggu, 01 Januari 2017

SELAMAT TAHUN BARU

Tahun Baru itu biasa saja hanya orang spesialis dan punya tujuan dan kenangan serta angan angan dan tujuan serta hiburan yang selalu menanti datangnya tahun baru, misal penghibur, pedagang, dan jasa lainnya yang dimanfaatkan saat tahun baru bersama libur bersama. Karena difocuskan untuk bikin acara sehingga ramai disana sini di tiap tempat dan daerah yang menyelenggarakan malam tahun baru. Itulah tahun baru menjadi ramai untuk dikenang.
Bagi yang biasa di rumah ya biasa biasa saja apalagi dulu sebelum ada HP TV dan internet serta transportasi merasa biasa saja, malahan ramai acara pasti daerah tertentu yang punya acara bagi warganya, misal panen raya atau pilkades saat itu. Setelah era baru berubah dengan sendirinya apalagi didukung alat elektronik dan transportasi yang serba canggih mau kemana dan informasi tepat seseorang dapat pergi di tujuan tertentu untuk merayakan tahun baru.
SELAMAT TAHUN BARU









Rabu, 09 November 2016

Pencemaran Nama Baik Pasal dan Pidananya

Tindak Pidana Pencemaran Nama Baik, Penginaanan dan Unsur-unsurnya
Tindak Pidana adalah suatu perbuatan yang bila dilanggar maka pelakunya akan mendapatkan sanksi yang jelas dan sesuai dengan KUHP.
Dari jenis tindak pidana dalam KUHP terdapat jenis tindak pidana yang hanya dapat dilakukan penuntutan apabila ada pengaduan dari pihak yang dirugikan, hal ini diatur dalam Bab VII KUHP tentang mengajukan dan menarik kembali pengaduan dalam hal kejahatan-kejahatan yang hanya dituntut atas pengaduan. Salah satu tindak pidana aduan adalah tindak pidana pencemaran nama baik.


1.    Pengertian Pencemaran Nama Baik
Ukuran suatu perbuatan dapat dikategorikan sebagai pencemaran nama baik orang lain masih belum jelas karena banyak faktor yang harus dikaji. Dalam hal pencemaran nama baik atau penghinaan yang hendak dilindungi adalah kewajiban setiap orang untuk menghormati orang lain dari sudut kehormatannya dan nama baiknya dimata orang lain.
Adanya hubungan antara kehormatan dan nama baik dalam hal pencemaran nama baik tersebut, maka dapat dilihat dahulu pengertiannya masing-masing. Kehormatan adalah perasaan terhormat seseorang dimata masyarakat, dimana setiap orang memiliki hak untuk diperlakukan sebagai anggota masyarakat yang terhormat. Menyerang kehormatan berarti melakukan perbuatan menurut penilaian secara umum menyerang kehormatan seseorang. Rasa hormat dan perbuatan yang termasuk kategori menyerang kehormatan seseorang ditentukan menurut lingkungan masyarakat pada tempat perbuatan tersebut dilakukan.
 Rasa kehormatan ini harus diobjektifkan sedemikian rupa dan harus ditinjau dengan suatu perbuatan tertentu, seseorang pada umumnya akan merasa tersinggung atau tidak. Dapat dikatakan pula bahwa seorang anak yang masih sangat muda belum dapat merasakan tersinggung ini, dan bahwa seorang yang sangat gila tidak dapat merasa tersinggung itu. Maka, tidak ada tindak pidana penghinaan terhadap kedua jenis orang tadi.
Nama baik adalah penilaian baik menurut anggapan umum tentang perilaku atau kepribadian seseorang dari sudut moralnya. Nama baik seseorang selalu dilihat dari sudut orang lain, yakni moral atau kepribadian yang baik, sehingga ukurannya ditentukan berdasarkan penilaian secara umum dalam suatu masyarakat tertentu di tempat mana perbuatan tersebut dilakukan dan konteks perbuatannya.
Pencemaran nama baik dikenal juga istilah penghinaan, yang pada dasarnya adalah menyerang nama baik dan kehormatan seseorang yang bukan dalam arti seksual sehingga orang itu merasa dirugikan. Kehormatan dan nama baik memiliki pengertian yang berbeda, tetapi keduanya tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain, karena menyerang kehormatan akan berakibat kehormatan dan nama baiknya tercemar, demikian juga menyerang nama baik akan berakibat nama baik dan kehormatan seseorang dapat tercemar. Oleh sebab itu, menyerang salah satu diantara kehormatan atau nama baik sudah cukup dijadikan alasan untuk menuduh seseorang telah melakukan penghinaan.
Oemar Seno Adji mendefinisikan pencemaran nama baik sebagai menyerang kehormatan atau nama baik (aanranding of geode naam). Salah satu bentuk pencemaran nama baik adalah “…, pencemaran nama baik secara tertulis dan dilakukan dengan menuduhkan sesuatu hal,…”. 
2.    Bentuk Pencemaran Nama Baik
Pencemaran nama baik terlihat dari 2 macam, yaitu pencemaran nama baik secara lisan, dan pencemaran nama baik secara tertulis. Dalam bukunya,Oemar Seno Adji menyatakan pencemaran nama baik dikenal dengan istilah penghinaan, dimana dibagi menjadi sebagai berikut :
a.    Penghinaan materiil
Penghinaan yang terdiri dari suatu kenyataan yang meliputi pernyataan yang objektif dalam kata-kata secara lisan maupun secara tertulis, maka yang menjadi faktor menentukan adalah isi dari pernyataan baik yang digunakan secara tertulis maupun lisan. Masih ada kemungkinan untuk membuktikan bahwa tuduhan tersebut dilakukan demi kepentingan umum.
b.   Penghinaan formil
Dalam hal ini tidak dikemukakan apa isi dari penghinaan, melainkan bagaimana pernyataan yang bersangkutan itu dikeluarkan. Bentuk dan caranya yang merupakan faktor menentukan. Pada umumnya cara menyatakan adalah dengan cara-cara kasar dan tidak objektif. Kemungkinan untuk membuktikan kebenaran dari tuduhan tidak ada dan dapat dikatakan bahwa kemungkinan tersebut adalah ditutup.

Hukum pidana mengatur penghinaan dalam KUHP pada BAB XVI, Pasal 310 KUHP sampai dengan Pasal 321 KUHP, penghinaan dalam bab ini meliputi enam macam penghinaan yaitu:
1)   Pasal 310 ayat (1) KUHP mengenai pencemaran;
Barangsiapa sengaja menyerang kehormatan atau nama baik seorang, dengan menuduh suatu hal, yang dimaksudnya terang supaya hal itu diketahui umum, diancam karena pencemaran, dengan pidana penjara paling lama Sembilan bulan atau denda paling banyak tiga ratus rupiah.

Banyak pakar yang menggunakan istilah “menista”. Perkataan “menista” berasal dari kata “nista”. Sebagian pakar menggunakan kata “celaan”. Perbedaan istilah tersebut disebabkan penggunaan kata-kata dalam menerjemahkan kata “smaad” dari Bahasa Belanda. Kata “nista” dan kata “celaan” merupakan kata sinonim.Unsur-unsur Pasal 310 ayat (1) KUHP, dibagi dua yaitu unsur objektif dan unsur subjektif.
Unsur-Unsur Objektif:
a)      Barangsiapa;
b)      Menyerang kehormatan atau nama baik ”seseorang”;
c)      Dengan menuduhkan suatu hal.
Unsur Subjektif:
a)      Dengan maksud yang nyata  (kenlijk doel) supaya tuduhan itu
diketahui umum (ruchtbaarheid te geven);
b)      Dengan sengaja (opzettelijk);
2)   Pasal 310 ayat (2) KUHP mengenai pencemaran tertulis;
Jika hal itu dilakukan dengan tulisan atau gambaran yang disiarkan, dipertunjukkan atau ditempelkan di muka umum, maka yang bersalah, karena pencemaran tertulis, diancam pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan atau denda paling banyak tiga ratus rupiah.

Istilah “menista secara tertulis” oleh beberapa pakar dipergunakan istilah “menista dengan tulisan”. Perbedaan tersebut disebabkan pilihan kata-kata untuk menerjemahkan yakni kata smaadschrift yang dapat diterjemahkan dengan kata-kata yang bersamaan atau hampir bersamaan.
Berdasarkan rumusan diatas maka menista dan menista dengan tulisan mempunyai unsur-unsur yang sama, bedanya adalah bahwa menista dengan tulisan dilakukan dengan tulisan atau gambar sedangkan unsur-unsur lainnya tidak berbeda. Unsur-unsur tersebut yaitu:
a)      Barangsiapa;
b)      Dengan sengaja;
c)      Menyerang kehormatan atau nama baik ”seseorang”;
d)     Dengan tulisan atau gambar yang disiarkan;
e)      Dipertunjukkan pada umum atau ditempelkan.
3)   Pasal 311 ayat (1) KUHP mengenai memfitnah;
Jika yang melakukan kejahatan pencemaran atau pencemaran tertulis, dalam hal diperbolehkan untuk membuktikan bahwa apa yang dituduhkan itu benar, tidak membuktikannya dan tuduhan dilakukan bertentangan dengan apa yang diketahui, maka dia diancam karena melakukan fitnah, dengan pidana penjara paling lama empat tahun.

Kata “fitnah” sehari-hari umumnya diartikan sebagai yang dimuat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yakni:
“perkataan yang dimaksud menjelekkan orang….”.

Dalam ilmu hukum pidana, fitnah adalah menista atau menista dengan surat/tulisan tetapi yang melakukan perbuatan itu, diizinkan membuktikannya dan ternyata, tidak dapat membuktikannya.Menurut Pasal 313 KUHP, membuktikan kebenaran ini juga tidak diperbolehkan apabila kepada si korban dituduhkan suatu tindak pidana yang hanya dapat dituntut atas pengaduan, dan pengaduan ini in concreto tidak ada.
Tindak pidana yang diatur dalam Pasal 311 ayat (1) KUHP tampaknya erat terkait dengan ketentuan Pasal 310 KUHP. Sehingga dapat ditarik unsur-unsur kejahatan yang terkandung yaitu:
a)      Semua unsur (objektif dan subjektif) dari :
                                                              i.          pencemaran [Pasal 310 ayat (1)] atau
                                                            ii.          pencemaran tertulis [Pasal 310 ayat (2)]
b)      Si pembuat dibolehkan untuk membuktikan apa yang dituduhkannya itu benar;
c)      Tetapi si pembuat tidak dapat membuktian kebenaran tuduhannya;
d)     Apa yang menjadi isi tuduhannya adalah bertentangan dengan yang diketahuinya.
4)   Pasal 315 KUHP mengenai penghinaan ringan;
Tiap-tiap penghinaan dengan sengaja yang tidak bersifat pencemaran atau pencemaran tertulis, yang dilakukan terhadap seorang, baik dimuka umum dengan lisan atau tulisan, maupun di muka orang itu sendiri dengan lisan atau perbuatan, atau dengan surat yang dikirimkan atau diterimakan kepadanya, diancam karena penghinaan ringan, dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau denda paling banyak tiga ratus rupiah.

Kata “penghinaan ringan” diterjemahkan dari bahasa Belanda yaitu kata eenvoudige belediging; sebagian pakar menerjemahkan kata eenvoudigedengan kata “biasa”, sebagian bakar lainnya menerjemahkan dengan kata “ringan”. Dalam Kamus Bahasa Belanda, kata eenvoudige: sederhana, bersahaja, ringan. Dengan demikian, tidak tepat jika dipergunakan kata penghinaan biasa.
Unsur-unsur Pasal 315 KUHP:
Unsur Objektif:
a.       Setiap penghinaan yang tidak bersifat pencemaran (dengan lisan) atau pencemaran tertulis;
b.      Yang dilakukan terhadap seseorang dimuka umum dengan lisan atau tulisan, maupun dimuka orang itu sendiri degan lisan atau perbuatan;
c.       Dengan surat yang dikirimkan atau diterimakan kepadanya
Unsur Subjektif: Dengan sengaja.
5)   Pasal 317 ayat (1) KUHP mengenai mengadu secara memfitnah;
Barangsiapa dengan sengaja mengajukan pengaduan atau pemberitahuan palsu kepada penguasa, baik secara tertulis maupun untuk dituliskan, tentang seseorang sehingga kehormatan atau nama baiknya terserang, diancam karena melakukan pengaduan fitnah, dengan pidana penjara paling lama empat tahun.

Maka unsur-unsur dalam Pasal 317 ayat (1) KUHP adalah:
Unsur Objektif:
a.       Mengajukan pengaduan atau pemberitahuan palsu kepada penguasa, baik secara tertulis maupun untuk dituliskan;
b.      Tentang seseorang kepada penguasa;
c.       Sehingga kehormatan atau nama baiknya terserang.
Unsur Subjektif: Dengan sengaja.
Penguasa dalam pengertian semua instansi dan pejabat yang mempunyai wewenang hukum publik.
6)   Pasal 318 ayat (1) KUHP mengenai tuduhan secara memfitnah.
Barangsiapa dengan sesuatu perbuatan sengaja menimbulkan secara palsu persangkaan terhadap seseorang bahwa dia melakukan sesuatu perbuatan pidana, diancam, karena menimbulkan persangkaan palsu, dengan dengan pidana penjara paling lama empat tahun.

Jadi unsur-unsur Pasal 318 ayat (1) KUHP adalah:
Unsur Objektif: Sesuatu perbuatan sengaja menimbulkan secara palsu persangkaan terhadap seseorang bahwa dia melakukan sesuatu perbuatan pidana.
Unsur Subjektif: Dengan sengaja.
Perbuatan yang dilarang adalah:
Dengan sengaja melakukan perbuatan dengan maksud menuduh seseorang secara palsu, bahwa ia telah melakukan perbuatan yang dapat dihukum (tindak pidana), tuduhan mana ternyata palsu. Dalam kejahatan ini, terhadap seseorang yang tidak ada hubungannya dengan seseuatu tindak pidana yang telah terjadi, dilakukan suatu perbuatan, hingga ia dicurigai sebagai pelaku dari tindak pidana itu.
Semua penghinaan ini hanya dapat dituntut apabila ada pengaduan dari orang atau korban, yang dikenal dengan delik aduan, kecuali bila penghinaan ini dilakukan terhadap seseorang pegawai negeri pada waktu sedang menjalankan tugasnya secara sah. Objek dari penghinaan-penghinaan diatas haruslah manusia perorangan, maksudnya bukan instansi pemerintah, pengurus suatu organisasi, segolongan penduduk, dan sebagainya. Supaya dapat dihukum dengan pasal menista atau pencemaran nama baik, maka penghinaan harus dilakukan dengan cara menuduh seseorang telah melakukan perbuatan yang tertentu dengan maksud tuduhan itu akan diketahui oleh banyak orang baik secara lisan maupun tertulis, atau kejahatan menista ini tidak perlu dilakukan di muka umum, sudah cukup bila dapat dibuktikan bahwa terdakwa bermaksud menyiarkan tuduhan itu.
Menurut Pasal 310 ayat (3) KUHP, perbuatan menista atau menista dengan tulisan tidak dihukum apabila dilakukan untuk membela kepentingan umum atau terpaksa dilakukan untuk membela diri. Patut atau tidaknya alasan pembelaan diri atau kepentingan umum terletak pada pertimbangan hakim, sehingga apabila oleh hakim dinyatakan bahwa penghinaan tersebut benar-benar untuk membela kepentingan umum atau membela diri maka pelaku tidak dihukum. Tetapi bila oleh hakim penghinaan tersebut bukan untuk kepentingan umum atau membela diri, pelaku dikenakan hukuman Pasal 310 ayat (1) dan (2) KUHP, dan apabila yang dituduhkan oleh si pelaku tidak benar adanya, maka si pelaku dihukum dengan Pasal 311 KUHP, yaitu memfitnah.